Perdamaian di Penghujung Bulan Ramadhan

Kisah inspiratif ini terungkap di dalam ruang sidang Garuda Pengadilan Negeri Rengat dimana sebuah perkara pidana ringan selesai dengan kesepakatan perdamaian antara PTPN V Amo I (korban) dan Satar Syam (terdakwa), hal ini tak lepas dari usaha hakim pemeriksa perkara Wan Ferry Fadli, S.H. didampingi panitera pengganti Harliana yang telah berupaya segenap hati mewujudkan perdamaian diantara keduanya dalam pemeriksaan perkara pidana Nomor 14/Pid.C/2021/PN Rgt.

Pada hari ini Jumat tanggal 7 Mei 2021, dalam perkara pidana ringan ini Saksi menerangkan bahwa Pada hari Minggu tanggal 7 Maret 2021 sekitar pukul 14.00 WIB Saksi melaksanakan patroli rutin di seputaran areal kebun PTPN V Amo I, sesampainya di kebun Afdeling III Desa Lubuk Batu Tinggal, Saksi mendapati seseorang sedang mengendarai sepeda motor sambil membawa karet lump yang dibungkus menggunakan plastik, lalu oleh Saksi diberhentikan orang tersebut dan orang tersebut mengaku bernama Satar Syam yang merupakan pekerja kontrak di PTPN V dan mengaku membawa karet lump hasil deresannya sendiri di areal kebun Afdeling III PTPN V Amo I namun tidak di setorkannya ke PTPN V dan rencananya karet lump tersebut akan dijual ke luar Perusahaan PTPN V. Atas kejadian tersebut saksi mengamankan dan melaporkan Sdra. Satar Syam dan barang bukti ke Polsek Lubuk Batu Jaya guna proses penyidikan.

Dalam persidangan, Hakim telah menjatuhkan putusan atas hasil kesepakatan perdamaian kepada sdr. Satar Syam sebagai berikut:

  1. Terdakwa SATAR SYAM alias PIPIT bin RUSLI SYAM telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan ringan;
  2. Menghukum Terdakwa untuk melaksanakan kesepakatan damai;
  3. Memerintahkan agar barang bukti dikembalikan kepada yang berhak melalui Penyidik selaku kuasa Penuntut Umum;
  4. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp2.000,00 (dua ribu rupiah);

Inilah potret keadilan dalam perkara pidana yang bisa dirasakan semua pihak. Terdakwa yang telah menyesali perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya bisa mendapatkan maaf dari korban serta hubungan keduanya membaik sehingga pemulihan keadaan antara Korban dan Terdakwa terlaksana.

Penerapan konsep keadilan “Restorative Justice” oleh Hakim Pengadilan Negeri Rengat telah sesuai dengan salah satu misi yang digariskan Mahkamah Agung yakni “Memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan kepada pencari keadilan".

WhatsApp Image 2021-05-07 at 14-42-10

Landasan hukum yang dipedomani dalam menerapkan Restorative Justice sebagimana diatur Nota Kesepakatan Bersama Ketua Mahkamah Agung RI, Menteri Hukum dan Ham RI, Jaksa Agung RI, Kepala Kepolisian RI Nomor 131/KMA/SKB/X/2012 tentang Pelaksanaan Penerapan Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan, Jumlah Denda, Acara Pemeriksaan Cepat, serta Penerapan Keadilan Restoratif (Restorative Justice) dan oleh Keputusan Dirjen Badilum Mahkamah Agung RI Nomor 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 tentang Pemberlakuan Penerapan Keadilan Restoratif (Restorative Justice).

Dengan adanya mekanisme penyelesaian secara restorative justice, ke depannya Pengadilan berharap masalah-masalah yang berkaitan dengan tindak pidana ringan yang terjadi di masyarakat dapat diselesaikan sendiri oleh masyarakat dengan cara-cara kekeluargaan yang merupakan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia.


Tulis Komentar